Kisah Nenek Pakande, Cerita Rakyat asal Sulsel Pemangsa Anak-anak

Candra Setia Budi ยท Minggu, 20 November 2022 - 19:39:00 WITA
Kisah Nenek Pakande, Cerita Rakyat asal Sulsel Pemangsa Anak-anak
Kisah Nenek Pakende, cerita rakyat asal Sulsel pemangsa anak-anak. (Foto: YouTube Adni Anak SD/Ist)

JAKARTA, iNews.id - Kisah Nenek Pakande adalah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan (Sulsel). Dalam cerita rakyat Bugis, Nenek Pakande digambarkan sebagai sosok nenek tua yang suka menculik dan memakan atau memangsa anak-anak yang bermain di luar rumah.

Dalam bahasa Bugis, kata pakande berasal dari kata pakkanre-kanre tau yang berarti suka makan daging manusia. 

Dia disebut-sebut biasa berkeliaran di sekitar desa atau kampung. Sebenarnya penampilan dari nenek tersebut biasa saja sama seperti para perempuan tua lain yang memiliki kulit keriput dan juga rambut yang sudah beruban. 

Nenek Pakande menculik anak kecil saat mereka sedang asyik berkeluyuran dan bermain di luar rumah. Hal itu dilakukannya karena dianggap lebih mudah daripada menculiknya di dalam rumah.

Namun, kisah Nenek Pakande banyak versi. Versi lainnya menceritakan bahwa nenek ini hendak memakan hati dua anak laki-laki saat mereka besar. 

Dikutip dari Repositori.kemdikbud.go.id. Dikisahkan, ada dua orang anak-anak laki-laki bersaduara sang kakak berumur lima tahun, dan adiknya berumur dua tahun. Kedua anak itu mempunyai ibu tiri.

Bapak kedua anak itu pekerjaannya berkebun. Jadi. kalau bapaknya keluar pada pagi hari, kembalinya tengah hari. Kedua anak itu tinggal di rumah dengan ibu tirinya.

Ibu tiri kedua anak itu sangat tidak menyukai kedua anak tirinya, bila sang ayah kedua anak itu tidak ada di rumah ia tidak memberinya makan.

Namun, bila ia melihat bapak kedua anak ini datang dari kebun sang ibu segera membawa kedua anak itu ke dapur, kemudian mengambil nasi, muka kedua anak tirinya dibedaki dengan nasi. Begitulah keadaan kedua anak itu tiap-tiap hari. 
 
Pada suatu hari, kedua anak itu bermain di muka rumah dengan baku lempar raga. Pernah terjadi waktu bola raga dilemparkan bola raga itu masuk mengenai tamu ibu tirinya, sang ibu ibu tiri sangat marah kepada keduanya.

Karena sangat marah, ibu tirinya merasa senang jika makan hati kedua anak itu. Setelah bapak kedua anak itu datang dari kebun, ibu tirinya pun mengadu pada suaminya bahwa sifat kedua anaknya sudah tidak baik. 

Sang ayah yang tidak sampai hati melihat anaknya dibunuh di rumahnya, kemudian diambil hatinya, terpaksa dipanggillah tetangganya.

Tetangga itulah yang mengatakan, 'tidak, lebih baik saya yang membunuh anak itu. Nanti saya yang membawa ke hutan. kemudian di situ saya bunuh. Hatinya saya bawakan kepadamu'.

Kemudian, diambilah anak itu oleh tetangganya, kemudian dibawa ke pinggir hutan. Ketika sampai di pinggir hutan menolehlah orang yang akan membunuhnya itu, ia sangat belas kasihan melihat kedua anak tersebut.

Akhirnya ia menangkap seekor binatang. Binatang itulah yang diambil hatinya. Orang itu berpesan kepada kedua anak tersebut katanya, 'engkau sekarang, tidak usah kembali lagi ke kampung. Buanglah dirimu', sesudah berkata demikian, tetangga kedua anak itu membawa hati binatang, kemudian hati binatang itu diserahkan ke ibu tiri kedua
anak tadi. 

Si ibu tiri barulah merasa senang karena di rumah tidak ada lagi anak tirinya. Tinggal ia sendiri yang memiliki semua penghasilan suaminya.

Kedua anak laki-laki bersaudara itu berjalan terus hingga meliwati tujuh gunung dan tujuh bukit panjang. Akhirnya, sampailah di sebuah
hutan. 

Mereka masuk ke dalam hutan itu, kira-kira setengah hari sesudah memasuki hutan belantara. mereka mendapati sebuah rumah. Keduanya pun terus masuk dan tidak ada orang yang ditemuinya.

Editor : Candra Setia Budi

Bagikan Artikel: