Upacara Adat Rambu Solo, Ritual Pemakaman Unik dan Termahal Suku Toraja

Irma Rizqi Yani Solihah · Sabtu, 22 Januari 2022 - 07:30:00 WITA
Upacara Adat Rambu Solo, Ritual Pemakaman Unik dan Termahal Suku Toraja
Upacara adat Rambu Solo yang dilakukan Suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulsel. (Foto: SINDOnews)

JAKARTA, iNews.id - Upacara Adat Rambu Solo merupakan pesta penghormatan terakhir terhadap anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Upacara adat itu dilakukan Suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Upacara Adat Rambu Solo ini bahkan sudah menjadi agenda wisata dan banyak dikunjungi wisatawan dari mancanegara. 

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbu.go.id, Suku Toraja mendiami utara pegunungan Sulawesi Selatan, dataran Lawu serta sebagian berada di Sulawesi Barat. 

Suku Toraja ini memiliki julukan Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari'ollo yang bermakna negeri yang bulat seperti bulan dan matahari. 

Asal usul Tana Toraja berasal dari kata Tana yang berarti tanah, kawasan atau tempat tinggal. Orang Toraja lebih senang menyebut diri sesuai dalam kosakata lokalnya sebagai “Toraya". Berarti keturunan Raja, "Orang-orang hebat" atau "manusia Mulia". 

Sementara masyarakat di daerah selatan (dataran rendah) menyebut penduduk yang tinggal di daerah utara ini sebagai "Riaja", merujuk pada “Orang yang mendiami daerah pegunungan”. Toraja Utara merupakan pemekaran pemekaran dari Kabupaten Tana Toraja, yang resmi berdiri sejak 26 November 2008. Kabupaten ini beribukotakan Rantepao, yang berjarak ± 329 km dari Makassar dan dapat ditempuh melalui perjalanan darat sepanjang 329 km ke arah utara.

Upacara adat Rambu Solo di Tana Toraja. (Foto: SINDOnews)
Upacara adat Rambu Solo di Tana Toraja. (Foto: SINDOnews)

Masyarakat Toraja sangat memegang teguh adat istiadat mereka, apabila melanggar kebiasaan maka disebut pantangan. Hal tersebut membuat penduduk selalu melaksanakan upacara kematian adat Rambu Solo.

Rambu Solo / Aluk Rampe Matampu merupakan rangkaian upacara yang menyangkut kematian dan pemakaman manusia. Upacara dilaksanakan setelah lewat tengah hari, sinar matahari mulai terbenam menunjukkan kedukaan atas kematian / pemakaman manusia. Ritual atau kurban persembahan dari upacara ini dilakukan di sebelah barat tongkonan. 

Rambu Solo atau Aluk Rampe Matampu dianggap sebagai upacara untuk menyempurnakan kematian seseorang.

Rambu Solo dipersiapkan keluarga almarhum sebagai wujud perpisahan dengan mengantarkan  jiwa yang telah tiada  menuju ke alam roh. Semakin meriah dah lama  acara menandakan status sosial seseorang. Biasa dilakukan tiga hari hingga satu pekan. 

Dalam upacara terdapat dua perbedaan golongan masyarakat dalam jumlah hewan yang akan disembelih untuk merayakan pesta, yakni golongan Rapasan (Bangsawan) jumlah kerbau yang serahkan berkisar 24 sampai seratus ekor. 

Golongan Tana Bassi (menengah) wajib memberikan 8 ekor kerbau dan 50 ekor babi. Jumlah yang diinginkan harus terpenuhi, supaya dapat mengantarkan jenazah ke tempat tinggi atau disemayamkan pada tebing. 

Jika belum terpenuhi maka akan disimpan di atas tongkonan (rumah adat Toraja) dan diibaratkan sebagai orang yang sakit.

Rambu Solo terdiri atas dua kata yakni, Rambu yang berarti asap dan Solo yang bermakna turun.  bertujuan mengantarkan jiwa yang mati menuju alam roh bertemu para kerabat yang telah tiada. Alam keabadian dalam adat Toraja disebut Puya.  

Terdapat banyak alat yang dipergunakan dalam upacara  adat ini seperti: 

1. La’bo (parang), dipergunakan untuk menyembelih hewan yang dikurbankan beserta memotong  bambu. 

2. Tallang (bambu), untuk membuat pondok dan memasak daging babi dengan daun pepaya.

3. Bayu lotong (baju hitam), dipakai sebagai tanda duka cita atas perginya kerabat tercinta.

4. Sambu’ lotong (sarung hitam) sama seperti baju hitam sarung juga dimaknai sebagai wujud kegelapan. Masyarakat Toraja memiliki ciri khas dalam berbusana yakni menggunakan kain sarung, sebagai tanda kesopanan.

5. Sepu’ (tas khas Toraja) berupa kain tenun yang dihiasi aksesoris dibagian ujungnya. digunakan untuk membagikan kapur, sirih, gula - gula maupun rokok kepada pelayat.

6. Gayang (keris yang pada ujung dan wadah berselimut emas) dipasangkan pada pondok dengan menghadap barat dengan jumlah genap sebagai wujud laki- lagi mulia nan gagah.

7. Kandaure merupakan perhiasan yang biasa digunakan oleh kaum wanita. 

8. Bombongan adalah alat musik yang dipergunakan memnandakan dimulai dan berakhirnya acara.

9. Kaseda yaitu berupa kain merah untuk kegiatan Ma’pasonglo.

10. Tedong (kerbau), bagi masyarakat Toraja kerbau diibaratkan sebagai hewan yang istimewa dan melambangkan kesejahteraan. Sehingga memiliki harga yang fantastis 

Editor : Kastolani Marzuki

Bagikan Artikel: