Dramatis! Tim SAR Bertahan 30 Jam di Tengah Badai Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500
Upaya awal evakuasi dilakukan dengan mengangkat jenazah ke arah atas sejauh 60 meter. Namun hujan deras dan keterbatasan peralatan membuat tim melakukan evaluasi lapangan dan memutuskan mengubah jalur evakuasi ke arah bawah menuju kampung terdekat.
Cuaca yang semakin memburuk memaksa tim bertahan semalaman di medan labil yang rawan longsor. Seluruh personel berjaga bersama jenazah hingga keesokan harinya sebelum dilakukan estafet evakuasi.
“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
Pada hari berikutnya, tim pertama menyerahkan proses evakuasi kepada tim lanjutan. Jenazah akhirnya tiba di Desa Lampeso, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Selasa sore, sebelum dibawa menuju Posko Cenrana dan selanjutnya ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim DVI Polri.
Dalam proses panjang tersebut, satu petugas SAR mengalami cedera serius berupa patah tulang lutut akibat kelelahan dan medan ekstrem, dan langsung dilarikan ke rumah sakit setelah dievakuasi.
Sementara itu, korban kedua yang merupakan seorang pramugari telah lebih dahulu tiba di Posko Induk Balocci, Kabupaten Pangkep, dan dipastikan akan lebih cepat dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.
Hingga kini, pencarian delapan korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan mempertimbangkan keselamatan personel dan kondisi cuaca di lokasi.
Editor: Donald Karouw