Tak Ingin Napi Rusuh seperti di Kabanjahe, Kepala Rutan Makassar Dengarkan Keluhan Warga Binaan

Yoel Yusvin ยท Kamis, 13 Februari 2020 - 19:35 WITA
Tak Ingin Napi Rusuh seperti di Kabanjahe, Kepala Rutan Makassar Dengarkan Keluhan Warga Binaan
Kepala Rutan Makassar melakukan mediasi dengan warga binaan dan mendengarkan keluhan mereka. (Foto: iNews/Yoel Yusvin).

MAKASSAR, iNews.id - Sebanyak 50 orang narapidana mewakili seluruh warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Makassar menyampaikan keluhannya kepada Kepala Rutan, Sulistyadi. Upaya mediasi ini dilakukan agar terjalin komunikasi yang baik antara kedua belah pihak.

Kepala Rutan Makassar, Sulistyadi mengatakan, dalam mediasi tersebut para narapidana (napi) terbuka atas masalah-masalah yang belakangan ini mereka alami, khususnya pelayanan petugas.

"Kami meminta masukan dari warga binaan untuk perbaikan pelayanan di dalam rutan," kata Sulistyadi kepada wartawan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (13/2/2020).

Menurut dia, dengan saling terbuka pihak rutan pun tahu bagaimana menyikapi masalah yang selama ini menjadi keluhan warga binaan. Selain itu, mereka akan punya sarana pengaduan terkait pelayanan petugas di dalam rutan, sehingga pelayanan bisa terus diperbaiki.

"Kegiatan ini juga dilakukan secara rutin. Bukan hanya di dalam ruangan, tapi petugas masuk dari blok ke blok tahanan untuk mendengar keluhan mereka," ujar dia.

Keluhan terkait kebutuhan napi di dalam rutan, menurutnya, menjadi salah satu hal mendasar agar suasana tetap kondusif. Selain itu, bentuk komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik ke mereka.

Saat ini, kata Sulistyadi, tercatat ada 2.450 tahanan penghuni rutan. Sementara daya tampung di sana hanya sekitar 1.000-an orang. Dia pun tak membantah kalau kondisi rutan tersebut dinilai melebihi batas atau over kapasitas.

Sebelumnya, terjadi kerusuhan di dalam Rutan Kelas II B Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut) pada Rabu (12/2/2020). Dalam insiden tersebut, sejumlah ruang tahanan terbakar dan beberapa napi harus dievakuasi ke ruangan lain.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal