Raymond Pierre Paul Westerling, Pembantai Rakyat Sulawesi Selatan pada Masa Kolonial Belanda
JAKARTA, iNews.id - Raymond Pierre Paul Westerling merupakan sosok di balik pembantaian rakyat Sulawesi Selatan. Tak tanggung-tanggung, ribuan orang dieksekusi secara sadis oleh pasukan di bawah komandonya.
Westerling melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk menghentikan para gerilyawan yang bersimpati pada Republik Indonesia. Meskipun sempat disegani oleh militer Belanda karena pembantaian yang telah dilakukan, ia akhirnya divonis bersalah setelah puluhan tahun berlalu.
Raymond Pierre Paul Westerling datang ke Sulawesi Selatan sebagai komandan Depot Special Troops (DST), sebuah unit komando untuk misi khusus. Kedatangannya ini bertujuan untuk menumpas gerilya di wilayah tersebut.
Beberapa hari setelahnya atau pada 10 Desember 1946, DST dalam komando Westerling menuju ke Batua untuk menangkap Wolter Monginsidi dan Ali Malaka. Kedua orang tersebut dituduh menjadi pimpinan pergerakan di Sulawesi Selatan.
Sebagaimana yang telah diketahui, Belanda saat itu tengah datang kembali untuk merebut kekuasaannya di negeri ini. Sedangkan masyarakat Sulawesi Selatan banyak melakukan pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sesampainya di Batua, 35 orang dieksekusi oleh DST. Tak berhenti di situ, Westerling juga merambah ke Bolomboddong, Tanjung Bunga, Kalukuang, hingga Suppa untuk membantai orang-orang yang dianggap ekstremis.
Cara eksekusi yang dilakukan oleh Westerling pun terbilang sangat kejam. Pasalnya, orang-orang yang dianggap ekstremis akan ditembak dan dipertontonkan di depan masyarakat.
Usai Makassar dan sekitarnya dibabat habis, DST juga merambah ke Bulukumba, Sinjai. Pare-Pare, hingga ke Sulawesi Barat. Dari peristiwa mengerikan yang berlangsung selama sekitar 3 bulan tersebut, sebanyak 40.000 jiwa telah gugur.
Editor: Komaruddin Bagja