Jenazah Bocah Penderita Leukimia di Pangkep Ditolak, Warga Takut Pasien Corona

Muhammad Subhan ยท Jumat, 03 April 2020 - 19:15 WIB
Jenazah Bocah Penderita Leukimia di Pangkep Ditolak, Warga Takut Pasien Corona
Warga tolak pemakaman bocah leukimia di Pangkep. (Foto: Sindonews).

PANGKEP, iNews.id - Seorang bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) meninggal dunia karena penyakit kanker darah atau Leukimia. Namun jenazahnya ditolak saat akan dimakamkan pada Kamis (2/4/2020) malam, karena dikira pasien positif virus corona.

Keluarga almarhum Wahid (10), warga Pualu Sabutung, Desa Mattiro Lanka, Kecamatan Liukang Tupabiring Utara sempat berdialog dengan warga. Karena pemakaman anaknya mendapatkan penolakan keras dari warga.

Wahid merupakan penderita leukimia yang dirawat dan meninggal dunia di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo Makassar. Namun informasi yang beredar bocah tersebut menderita Covid-19.

Anak dari pasangan Ramina dan Darwis ini menderita leukemia sejak satu tahun lalu, dan menjalani pengobatan di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo Makasar.

Kepala Desa Mattiro Lanka, Muzakir mengatakan, warga menolak pemakaman Wahid karena jenazah berasal dari RSUP dr Wahidin Sudirohudo, dan banyak pasien terpapar corona dirawat di sana.

"Warga tidak setuju jenazah dimakamkan di sini, karena menurut informasi yang berkembang, almarhum saat di rawat berdekatan dengan pasien Covid-19," kata dia, Jumat (3/4/2020).

Meski keluarga membawa diagnosa dari rumah sakit yang menyebutkan bahwa pasien meninggal karena leukemia, jenazah bocah malang tetap ditolak warga setempat.

Selain ditolak di Pulau Sabutung, jenazah Wahid juga tidak diterima warga di kampung orang tuanya di pulau Polewali, Desa Mattiro Labangeng Kecamatan Liukang Tupabiring Utara.

Setelah di tolak di dua pulau tersebut, jenazah Wahid akhirnya di bawah ke kampung Majennang, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro Pangkep di rumah kerabatnya dan dikuburkan di sana.

Sebelum dibawa ke Kabupaten Pangkep, keluarga almarhum juga kesulitan mendapatkan biaya untuk pemulangan jenazah anaknya, karena kedua orang tua pasien merupakan warga kurang mampu.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal