Contoh Teks Pidato Singkat tentang Bulan Muharram, Merayakan Tahun Baru Islam dengan Meneladani Kisah Hijrah Nabi 

Rilo Pambudi · Jumat, 22 Juli 2022 - 20:25:00 WITA
Contoh Teks Pidato Singkat tentang Bulan Muharram, Merayakan Tahun Baru Islam dengan Meneladani Kisah Hijrah Nabi 
Contoh teks pidato tentang bulan Muharram (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Menjelang Tahun Baru Islam 1444 H, contoh teks pidato tentang bulan Muharram bisa disimak dan dijadikan inspirasi. Bulan Muharram merupakan bulan mulia dalam Islam selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. 

Mengacu pada SKB 3 Menteri, tanggal 1 Muharram 1444 Hijriah tahun ini akan jatuh pada hari Sabtu, tanggal 30 Juli 2022.

Selain melakukan amalan sunnah seperti puasa, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di bulan Muharram adalah kajian. Oleh karena itu, menentukan materi ceramah atau pidato yang sesuai konteks Muharram sangat diperlukan.

Di antara banyak materi kajian, salah satu yang cocok disampaikan adalah ceramah tentang keistimewaan bulan Muharram. Dikutip iNews.id dari laman NU, Jumat (22/7/2022), berikut ini adalah contoh teks pidato tentang Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah.

Contoh Teks Pidato Singkat tentang Bulan Muharram

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hadirin yang dimuliakan Allah,

Pertama, mari kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya untuk kita pada ceramah bulan Muharram kali ini. Shalawat serta salam kita curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua termasuk umatnya yang memperoleh syafaat di hari kiamat. Aamiin ya robbal ‘alamin.

Hadirin sekalian,

Waktu terus mengalir hingga tak terasa kita sampai pada tahun baru 1444 Hijriah. Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. 
Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, diantaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. 

Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran peradaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih. Yang menarik, Umar bin Khattab menolak usulan ini. 

Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Memilih momen hijrah tepat pada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. 

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. 

Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. 

Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. 

Editor : Komaruddin Bagja

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: