Nenek Idara (47) yang hidup sebatang kara dan tinggal di bekas kandang ayam warga. Saat ini ia juga mengalami stroke. (Foto:Erwin Eka Pratama/iNewsTV)
Erwin Eka Pratama

PINRANG, iNews.id - Setiap orang tentunya ingin hidup dengan serba berkecukupan dan tidak satu pun kekurungan dari segi apapun. Namun, tidak dengan nenek Idara (47), warga Kelurahan Mecinnae, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini, ia harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup.

Nenek Idara hidup sendiri di sebuah kandang ayam bekas warga berukuran 2x3 meter. Gubuk itu sudah menjadi tempat tinggalnya selama 10 tahun. 

Di dalam gubuk itu tampak terlihat seng yang sudah banyak berlubang, ketika hujan turun, air pun masuk ke dalam gubuknya.

Di tempatnya tidur pun terlihat ember dan kaleng yang berisi air bekas hujan. Dinding gubuk itu pun penuh dengan sarang laba-laba. 

Jelasnya, dengan kondisi yang tidak layak itu semakin membuat nenek 47 tahun akan cepat terserang penyakit.

Bahkan, saat ini nenek Idara mengalami stroke hingga membuat kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan dan hanya bisa merangkak untuk sekedar duduk di depan gubuk tersebut.

Lalu, bagaimana nenek ini bisa hidup sebatang kara di kadang ayam bekas warga?.

Ternyata, ia menjadi terlantar setelah kakaknya yang menjadi tumpuan terakhir hidupnya telah meninggal dunia. Saat itulah nenek Idara memulai hidup sebatang kara dan berjuang sendiri untuk bertahan hidup. 

Mirisnya, di tengah segala keterbatasan dan kekurangannya, hingga saat ini ia belum pernah tersentuh bantuan oleh pemerintah. 

Bahkan, untuk makan dan kebutuhan sehari-hari ia hanya bisa berharap belas kasih warga.

Warga sekitar bernama Tamrin mengatakan bahwa nenek Idara sudah tinggal di gubuk itu sejak 10 tahun.

"Dulunya, itu bekas kandang ayam warga dan tinggal sendiri. Apa yang saya makan saya beri dia, kasian," katanya.  

Ia menyebut, sejauh ini nenek tersebut tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah setempat. 

"Sudah dilaporkan ke Pak Lurah dan Kepala Lingkungan, sudah diambil foto, kartu keluarga, tapi tidak ada bantuan sama sekali," ujarnya. 
 
Dengan serba keterbasannya, nenek Idara pun berharap bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah atau setidaknya dirawat di panti jompo.


Editor : Candra Setia Budi