Remaja Menikah Dini di Bantaeng Dapat Dispensasi dari Pengadilan Agama

Muhammad Sardi ยท Senin, 16 April 2018 - 18:44 WITA
Remaja Menikah Dini di Bantaeng Dapat Dispensasi dari Pengadilan Agama
Pasangan remaja SY dan FA setelah mengurus pernikahan di KUA Kecamatan Bantaeng, Makassar, Sulsel. (Foto: iNews.id/Muhammad Sardi)

MAKASSAR, iNews.id – Pernikahan sepasang remaja belia di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang tengah viral dan diduga melanggar Undang-Undang Pernikahan, kini tinggal selangkah lagi agar resmi secara hukum. Kedua pasangan usia belia ini secara administrasi telah memenuhi syarat pernikahan hingga mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama Kabupaten Bantaeng.

Pasangan remaja di Kabupaten Bantaeng, Sulsel, yang memilih menikah dini menimbulkan polemik. Pasalnya, usia mereka masih sangat muda. Remaja perempuan, SY, masih berusia 14 tahun sedangkan si laki-laki, FA, baru berusia 15 tahun. Kedua pasangan ini telah menggelar resepsi pernikahan pada awal Maret 2018 lalu lantaran undangan lebih dulu telah disebar. Namun, pasangan remaja ini belum dibiarkan hidup serumah.

Terhitung pada Februari 2018 lalu, kedua pasangan ini mengajukan pernikahan ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Bantaeng. Namun, berdasarkan peraturan yang ada, KUA menolak permohonan itu dengan mengeluarkan blanko N 9. N9 adalah surat penolakan dari KUA terhadap pasangan yang akan menikah, tapi belum cukup usia untuk dinikahkan.

Setelah melalui proses panjang, pasangan ini didampingi oleh orang tua masing-masing mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama hingga mendapat dispensasi melanjutkan proses pernikahan. Selanjutnya, surat tersebut diteruskan ke KUA sehingga mereka bisa dinikahkan. Pengajuan pasangan remaja ini ke pengadilan sesuai regulasi, Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Kompilasi Hukum Islam.

“Pengadilan Agama mengajukan permohonan untuk mendapatkan dispensasi supaya pasangan remaja ini bisa melangsungkan pernikahan walaupun belum cukup usia. Tanggal 3 April 2018, keluar putusan Pengadilan Agama Bantaeng dan tanggal 11 April 2018 yang bersangkutan mendaftarkan kembali dirinya untuk dinikahkan, seperti itu kronologinya,” papar Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng Muhammad Yunus, Senin (16/4/2018).

Dia melanjutkan, jika pasangan ini telah memenuhi syarat dan prasyarat dinikahkan sebagai pasangan nikah, maka Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng tidak bisa melakukan tindakan menghalangi proses pernikahan. “Kami sesungguhnya hanya melaksanakan undang-undang saja. Sesuai peraturan itu, pasangan nikah boleh melangsungkan pernikahan setelah 10 hari pendaftaran di Pengadilan Agama,” katanya.

Karena belum sampai 10 hari pendaftaran, maka harus ada dispensasi dari camat Bantaeng. Hingga hari ini, langkah pasangan ini mengesahkan pernikahannya tertunda lantaran belum mendapat dispensasi itu. “Tentunya tinggal ini yang harus diurus keluarga calon pengantin. Kalau ini ada, maka yang bersangkutan bersyarat untuk kami berikan layanan pernikahan,” paparnya.

Sementara pasangan remaja, SY dan FA yang ditemui di Kantor KUA Kecamatan Bantaeng mengatakan, masih menunggu 10 hari lagi agar segera dinikahkan secara resmi oleh agama dan pemerintah. Hal ini disebabkan secara adat keduanya telah melakukan pernikahan, yaitu dengan menggelar resepsi pernikahan dengan mengundang warga setempat.

“Iya, belum bisa (melanjutkan pernikahan) karena harus 10 hari lagi baru bisa ke sini. Kami juga nunggu ada tanda tangan dari camat, dispensasi menikah, tapi tadi ke sana, tidak ada di kantor camat, katanya camat pergi ke pesta,” kata SY dan FA.

Setelah pernikahan keduanya resmi, SY dan FA berencana tinggal di rumah keluarga SY. FA, mengaku akan melanjutkan pendidikan dan mengikuti paket sementara SY yang sudah putus sekolah tidak berencana lagi bersekolah. “Tidak mungkin lagi sekolah karena saya ada urusan pekerjaan,” kata SY.


Editor : Maria Christina