Remaja di Makassar Lebam usai Diamankan, Penjelasan Polisi Berbeda-beda

Muhammad Arham Hamid, Antara ยท Kamis, 27 Agustus 2020 - 09:30 WITA
Remaja di Makassar Lebam usai Diamankan, Penjelasan Polisi Berbeda-beda
Kapolsek Bontoala memberikan klarifikasi tudingan salah tangkap remaja tawuran. (Foto: Antara).

MAKASSAR, iNews.id - Polisi kembali memberikan penjelasan terkait tudingan salah tangkap seorang remaja berinisial FH (13) yang diduga ikut tawuran di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Namun klarifikasi dari petugas berbeda-beda.

Kapolsek Bontoala, Kompol Andriyani Lilikay mengatakan, luka lebam yang dialami korban murni karena terjatuh dan terinjak-injak saat para pelaku tawuran melarikan diri dikejar polisi.

"Karena terjatuh dan terinjak-injak, hasil itu pun juga dikuatkan dengan hasil interogasi terhadap para pelaku dan anggota," kata Kompol Andriyani di Kota Makassar, Sulsel, Rabu (26/8/2020).

Menurut dia, tidak ada unsur kesengajaan oleh anggota di yang mengamankan terduga pelaku tawuran ini. Dia juga membenarkan, FH sempat memberontak dan melarikan diri saat akan dibawa ke Mapolsek Bontoala.

"Saat terjatuh itu, dia diangkat petugas. Saat akan dinaikkan ke mobil patroli, dia memberontak dan berusaha melarikan diri," ujar dia.

Sementara sebelumnya Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan, luka lebam ini karena unsur ketidak sengajaan petugas saat akan mengamankan korban. FH memberontak, sehingga ketika tangan petugas membentur wajah korban.

"Dia mau melepaskan diri dari pegangan petugas, dan secara spontan anggota menariknya lagi, untuk memegang kerah baju. Tapi tak sengaja membentur wajah korban," ujar dia.

Sedangkan cerita dari pihak keluarga mengatakan, FH sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi. Dia juga dipaksa untuk mengakui telah terlibat tawuran di Jalan Tinumbu Makassar. Padahal saat itu dia hanya melintas di sekitar TKP.

"Waktu kejadian (tawuran) dia hanya melintas, kebetulan ada anak-anak tawuran dikejar polisi. Dia takut dan ikut lari," kata paman korban, Abdul Karim.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal