Makna dan Filosofi Baju Adat Buton yang Dipakai Jokowi saat Upacara HUT RI

Andhy Eba ยท Rabu, 17 Agustus 2022 - 17:21:00 WITA
Makna dan Filosofi Baju Adat Buton yang Dipakai Jokowi saat Upacara HUT RI
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriaana Jokowi berjoget saat Farel Prayoga bernyanyi di perayaan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Rabu (17/8/2022). (YouTube Sekretariat Presiden)

JAKARTA, iNews.idBaju adat Buton, Dolomani yang dipakai Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat upacara Proklamasi Kemerdekaan RI ke-77 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/8/2022), memiliki makna dan filosofi yang dalam.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Baubau, Wa Ode Nursanti Monianse mengatakan, pakaian adat dolomani merupakan salah satu pakaian kebesaran Sultan Buton saat menghadiri upacara-upacara resmi di Kesultanan Buton. 

“Pakaian adat Kesultanan Buton yang dikirim terdiri atas baju, celana, sarung, dan kopiah,” katanya, Senin (15/8/2022).

Dolomani sering dikenakan Sultan Buton ke-35 yaitu, Sultan Muhamad Ali. 

Makna dan Filosofi Baju Adat Buton 

Baju adat Dolomani ini rupanya menyimpan makna para pendiri Kerajaan Buton. Corak dan bentuk pakaian adat Buton sangat unik dan beragam. Baju adat ini tergolong unik karena tidak ada samanya dengan pakaian adat daerah lain di Indonesia atau bahkan di dunia.  

Keunikan tersebut tampak pada corak, bentuk, ragam, serta penggunaan masing-masing pakaian adat tersebut. Keragaman bentuk dan ragam pakaian adat Buton tak bisa dilepaskan dari keragaman latar belakang sosial budaya masyarakat Buton khususnya para pendiri awal kerajaan Buton yang juga mencerminkan sistem golongan sosial dalam masyarakat Buton.  

Presiden Jokowi mengenakan baju adat Buton, Dolomani saat upacara proklamasi Kemerdekaan RI ke-77 di istana Negara, Jakarta, Rabu (17/8/2022). (Foto: antara)
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Buton, Dolomani saat upacara proklamasi Kemerdekaan RI ke-77 di istana Negara, Jakarta, Rabu (17/8/2022). (Foto: antara)

Dijelaskan bahwa kerajaan Buton didirikan oleh sekelompok orang yang berasal dari latar belakang suku dan etnis yang berbeda. Mereka yakni Dungkusangia yang berasal dari Tiongkok-Mongol, Mia Patamiana dari Melayu, Wa Kaa Kaa dari Jawa-Mongol dan Sibatara dari Jawa

Filosofi di balik baju adat Buton Dolomani tersebut ternyata mengandung banyak unsur, di antaranya sulaman tangan bermotif bunga rongo. Bunga ini melambangkan perjalanan seorang pemimpin. 

Motif tersebut disulam dari bawah ke atas yang artinya seorang pemimpin, lalu dari atas ke bawah yang menandakan kesederhanaan dan peduli akan rakyatnya. 

Ada juga ornamen tumbuhan dengan buah yang manis, tapi gatal. Itu menggambarkan bahwa seorang sultan harus waspada terhadap bahaya yang mengancam daerahnya. 

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: