Kronologi Penculikan Siswi SMP di Makassar, Pelaku Pakai Masker dan 1 Orang Bertato

Muhammad Nur Bone ยท Jumat, 24 Januari 2020 - 12:45 WITA
Kronologi Penculikan Siswi SMP di Makassar, Pelaku Pakai Masker dan 1 Orang Bertato
Ilustrasi penculikan. (Foto: AFP).

MAKASSAR, iNews.id - Keluarga siswi SMP yang menjadi korban penculikan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menceritakan kronologi penculikan anaknya. Para pelaku merupakan orang yang tak dikenal dan menggunakan masker.

Ayah korban, Wing mengatakan, peristiwa penculikan anaknya itu terjadi pada Sabtu (19/1/2020) lalu. Ketika itu korban berinisial V (14) usai jalan-jalan dengan tantenya, Imelda. Begitu pulang, V hanya diantar sampai depan gang.

"Di depan, anak saya berjalan kaki menuju ke rumah, tiba-tiba diculik para pelaku dan langsung dimasukan ke dalam mobil," kata Wing kepada wartawan menuturkan pengakuan anaknya, Jumat (24/1/2020).

BACA JUGA: Siswi SMP di Makassar Diculik dan Disekap 6 Pria Misterius, Korban Lolos Loncat Jendela

Dia mengatakan, anaknya tidak mengenali para korban. Jumlah mereka ada enam orang dan semuanya memakai masker. Kemudian, salah satu dari komplotan penculik yang diduga pemimpinnya memiliki tato di lengan.

Saat dalam penyekapan, pelaku meminta nomor ponsel korban dan orang tuanya. Namun korban tak memberikannya dengan dalih tak hafal nomor ibu dan ayahnya. Dia akan dipulangkan bila orang tuanya memberi uang tebusan Rp50 juta.

"Tapi kami belum sempat dihubungi mereka (pelaku) karena anak kami berhasil meloloskan diri," ujarnya.

BACA JUGA: Digadaikan Rp1 Juta, Ibu di Pasuruan Ini Sandiwara Bayinya Diculik

Ibu korban, Yonavia Papilaya menambahkan, anaknya tak tahu sama sekali soal lokasi penyekapan. Dia disuntik diduga dengan obat bius hingga tak sadarkan diri saat diculik.

Setelah pengaruh obat biusnya hilang, anaknya melepaskan ikatan tangan dengan cara menggesek gesek tali ke benda tumpul. Dia kemudian kabur melalui jendela ketika lepas dari pengawasan.

"Untuk sekarang anak saya masih trauma. Sering kaget dan teriak sendiri. Takut ketemu orang asing jadi belum dapat ditemui," kata Yonavia.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal