DPRD Sulsel Minta Pemprov Selesaikan Lonjakan Harga Gula

Antara ยท Jumat, 13 Maret 2020 - 06:55 WIB
DPRD Sulsel Minta Pemprov Selesaikan Lonjakan Harga Gula
Ilustrasi

MAKASSAR, iNews.id - DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) meminta pemerintah provinsi setempat segera mengatasi persoalan gula. Harga gula yang tinggi disebut meresahkan masyarakat.

"Ada banyak hal soal gula, tingkat permintaan tinggi ditambah dengan kondisi global. Pemerintah harus segera bertindak mengatasi masalah ini," ujar Ketua Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, di Makassar, Kamis (12/3/2020).

Dia mengatakan selain faktor global, termasuk dampak dari virus Corona yang berpengaruh pada siklus perekonomian dunia. Padahal kebutuhan gula menjelang Ramadhan relatif meningkat, sementara ketersediaan di pasaran relatif terbatas.

Bila melihat kondisi tersebut, dia meminta dilakukan pengawasan ketat dari Satuan Tugas (Satgas) pangan yang sudah dibentuk.

"Kita berharap bahwa distributor tidak menimbun gula yang mereka miliki, ini perlu mendapat perhatian khusus. Kami sudah koordinasi dengan Satgas Pangan dan KPPU untuk melakukan pengawasan terkait ini," ujarnya.

Menurut dia, penimbunan bahan pangan telah ada aturannya, namun yang menjadi persoalan adalah manipulasi data yang perlu mendapat perhatian khusus.

"Itu bentuk perbuatan pidana. Manipulasi data ini akan menjadi usulan kita (DPRD Sulsel) dan menjadi perhatian serius pihak Polda dalam hal ini sebagai Satgas Pangan yang dimasukkan dalam satu aturan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sulsel Hadi Basalamah, menyebut untuk ketahanan pangan khususnya gula tidak sampai 10 hari ke depan. Ada 400 ton gula yang masih disimpan.

"Ketahanan tidak sampai 10 hari. Gula yang ada di Sulsel hari ini disepakati tidak dikeluarkan atau dijual. Kita menyikapi stok kita kuasai di Sulsel 300-400 ton," kata dia.

Hal itu dilakukan untuk menjaga ketahanan termasuk harga di pasaran dan disepakati tidak dikeluarkan ke pasar agar memenuhi kebutuhan konsumen.

Untuk harga penebusan, lanjut Hadi, masih menggunakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dibebankan kepada distributor sebesar Rp12.500/kilogram, namun yang terjadi di pasar-pasar harganya diatas Rp15 ribu/kilogram.

Selain itu, pemerintah telah melakukan regresi temporary meminta Bulog dan PTPN untuk segera masukkan gula impor.

"Alhamdulillah, impor sudah ada. Sambil kita menunggu kedatangan stok ini, kita lakukan temporary sistem sambil menunggu impor masuk, pengawasan tetap dilakukan Dirkrimsus Polda sebagai Satgas Pangan," ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan Sulsel menyebutkan terjadi kekurangan stok gula atau kondisi terbatas yang mengalami defisit hingga 90 ribu ton.

Bila melihat kondisi tiga pabrik gula di Sulsel yakni di PGB Arasoe, PGB Camming Kabupaten Bone, dan Pabrik Gula di Takalar, hanya bisa memproduksi 30 ribu ton per tahun.

"Sementara kebutuhan serapannya sekitar 120 ribu ton, itu pun bisa naik antara 10-15 persen di peak season (musim puncak)," kata Hadi Basalamah.


Editor : Muhammad Fida Ul Haq