Pernikahan Dini di Sulsel

ABG 14 Tahun Nikahi Gadis 16 Tahun untuk Rawat Orang Tua yang Sakit

Wahyu Ruslan ยท Rabu, 02 Mei 2018 - 23:24 WITA
ABG 14 Tahun Nikahi Gadis 16 Tahun untuk Rawat Orang Tua yang Sakit
Kedua pengantin baru saat berkumpul bersama keluarganya di Kabupaten Maros, Sulsel. (Foto: iNews/Wahyu Ruslan)

MAROS, iNews.id - Belum sampai sebulan kasus pernikahan anak di bawah umur yang menghebohkan masyarakat terjadi di Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), pernikahan serupa kembali terjadi. Kali ini sepasang anak yang masih berumur 14 dan 16 tahun di Kabupaten Maros menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.

Mempelai laki-laki berusia 14 tahun bernama Sattu, menikah dengan Rosniah berumur 16 tahun, yang tak lain sepupunya sendiri. Keduanya menikah setelah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang masih bersaudara kandung.

Sang laki-laki yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara ini tidak pernah mengenyam dunia pendidikan karena lahir dan besar di pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel). Sementara istrinya Rosniah, juga tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya karena merasa malu lantaran terlambat bersekolah. Meskipun mereka bersepupu, keduanya baru bertemu saat mereka duduk di pelaminan.

Kedua dinikahkan lantaran ibu dari pempelai laki-laki sudah sakit-sakitan. Tidak ada lagi yang merawatnya karena semua anak perempuannya telah berkeluarga. Ibu Sattu, akhirnya memilih Rosniah yang juga keponakannya, menjadi menantu.

Rencana pernikahan tidak mendapat pertentangan dari pihak keluarga. Kedua anak di bawah umur itu pun tidak ada yang menolak saat diminta untuk menikah.

“Saya nikahkan karena mamaknya selalu sakit, jadi saya nikahkan sama kemenakannya supaya ada yang merawat, mengurusi dari keluarga sendiri. Mereka berdua sepupu sekali, bersaudara mamak sama mamak. Tidak ada mereka dipaksa,” kata Daeng Baso, ayah mempelai laki-laki, Rabu (2/5/2018).

Pesta pernikahan digelar secara adat pada Sabtu (29/4/2018) lalu di rumah mempelai perempuan di Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Sementara akad nikahnya digelar di Makassar lantaran pihak pemerintah dan penghulu setempat tidak mau menikahkan mereka karena keduanya masih di bawah umur.

Sebelum melangsungkan pernikahan pihak keluarga mempelai telah meminta surat izin perkawinan dari pemerintah desa dan juga Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Maros. Namun, karena mereka belum cukup umur dan tidak mengantongi dispensasi dari Pengadilan Agama, baik pemerintah desa maupun KUA menolak menerbitkan izin itu.

“Beberapa hari lalu kepala desanya sudah telepon saya memberitahukan masalah ini. Saya sudah sampaikan agar pernikahan itu dilarang karena dalam undang-undang, pernikahan di bawah umur itu dilarang. Tapi karena katanya siri (malu) kalau tidak menikah, maka itu bukan wewenang saya lagi,“ kata Kepala KUA Maros Baru Sukeri.

Meski kedua mempelai ini sudah dinikahkan di Makassar, rencananya mereka segera diberangkatkan ke tempat asal mempelai laki-laki di Batu Tunau, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kota Baru, Kalsel.


Editor : Maria Christina