Tradisi Unik Bergotong Royong Memindahkan Rumah Panggung di Maros

Wahyu Ruslan · Senin, 23 Oktober 2017 - 19:18:00 WITA
Tradisi Unik Bergotong Royong Memindahkan Rumah Panggung di Maros
Ratusan warga Kelurahan Alepolea, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulsel, mengangkat rumah warga untuk dipindahkan ke lokasi baru, belum lama ini. Tradisi yang disebut Ma'Bule'Bola ini biasanya diakhiri dengan makan bersama. (Foto: iNews/Wahyu R

MAROS - Gotong royong telah lama mengakar dalam masyarakat Indonesia. Di Kabupaten Sulawesi Selatan (Sulsel), masyarakat suku Bugis masih mempertahankan Ma’Bule’Bola, sebuah tradisi mengangkat rumah panggung yang dilakukan beramai-ramai.

Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela. Bobot rumah yang dipindahkan tentu saja tidak ringan, bisa puluhan ton. Jarak rumah yang dipindahkan ke lokasi baru juga biasanya tidak dekat.

Jika dipikir dengan akal sehat, kegiatan ini sepertinya mustahil dengan mengandalkan tenaga manusia. Namun, dengan semangat gotong royong yang menjadi filosofi dalam tradisi Ma’Bule’Bola, proses mengangkat dan memindahkan rumah bisa dilakukan.

Seperti yang dilakukan di Kelurahan Alepolea, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulsel, pada awal Maret lalu. Warga beramai-ramai memindahkan sebuah rumah panggung. Awalnya, bambu-bambu diikat di masing-masing tiang rumah. Ini nantinya menjadi alat bantu mengangkat rumah. Bambu tersebut dipanggul bersama-sama untuk mempermudah mengangkat rumah dan memindah ke lokasi baru.

Walaupun hanya berjarak 500 meter dari lokasi baru, proses angkat rumah ini terbilang sulit. Warga harus memanggul rumah kayu ini secara bersamaan. Tak jarang warga harus berkali-kali untuk menurunkan rumah karena terlalu berat, lalu diangkat kembali. Untuk sampai di tujuan, bisa memakan waktu hingga berjam-jam.

Belum lagi jika cuaca tidak mendukung. Hujan deras membuat jalanan berlumpur dan menghambat pergerakan. Namun, masyarakat tetap semangat. Saat akan sampai di lokasi yang dituju, rumah juga bisa bertabrakan dengan atap rumah warga lain. Dengan kekompakan dan semangat gotong royong, ratusan warga akhirnya berhasil meletakkan tiang rumah ke posisi yang telah ditentukan.

Tokoh masyarakat Abidin Said mengatakan, tradisi Ma’Bule’Bola ini sudah dilakukan oleh masyarakat Bugis dan Makassar secara turun-temurun. Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela.

“Kita bisa lihat, secara spontan masyarakat itu datang. Ratusan orang mengangkat rumah. Jadi saya cuma mengumumkan di masjid dan secara spontan masyarakat datang beramai-ramai,” kata Abidin Said.

Setelah rumah selesai dipindahkan atau di tempat baru, kegiatan dilanjutkan dengan acara syukuran atau yang dikenal masyarakat Bugis Makassar dengan Baca Bara Sanji. Tujuannya agar rumah yang baru saja dipindahkan terhindar dari bencana dan malapetaka. “Tradisi lalu diakhiri dengan acara makan bersama sebagai bentuk ikatan silaturahmi yang erat antara warga,” katanya.

Ratusan warga yang terlibat dalam kegiatan ini menyantap makanan yang disediakan pemilik rumah. Hal ini juga dianggap sebagai imbalan dan ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang rela meluangkan waktu untuk membantu memindahkan rumahnya. Tradisi ini tentunya merupakan warisan leluhur yang harus tetap dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: