Polisi Bongkar Bisnis Ganja Sintesis di Apartemen Mewah Makassar, 21 Orang Jadi Tersangka

Sindonews, Faisal Mustafa ยท Selasa, 25 Februari 2020 - 20:55 WITA
Polisi Bongkar Bisnis Ganja Sintesis di Apartemen Mewah Makassar, 21 Orang Jadi Tersangka
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo saat rilis kasus pengungkapan pabrik ganja sintetis di salah satu apartemen mewah di Kota Makassar. (Foto: Sindonews).

MAKASSAR, iNews.id - Polisi membongkar bisnis gelap peredara ganja di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebanyak 21 pemuda memanfaatkan salah satu apartemen mewah di daerah tersebut sebagai lokasi memproduksi ganja sitensis.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan, jajaran Satreskoba Polrestabes Makassar membongkar praktik bisnis ganja itu di kawasan Apartemen Vida View, Jalan Topaz Raya, Kecamatan Panakkukang.

"Tersangka sebanyak 21 orang terkait pengungkapan narkoba golongan I yang merupakan ganja sintesis," kata Ibrahim di Lobi Apartemen Vida View, Selasa (25/02/2020).

Sebanyak 21 orang tersebut diamankan secara berkala sejak Sabtu (22/2/2020). Mereka menyewa empat kamar apartemen untuk bisnis ganja tersebut. Dari 21 tersangka, ada tiga orang perempuan.

Mereka berinisial AA (18 tahun), MG (17 tahun), MF (25 tahun), AP (19 tahun), MS (29 tahun), Dn (20 tahun), Gn (19 tahun), Ad (23 tahun), Ba (17 tahun), MR (21 tahun), Wk (19 tahun), dan MA (19 tahun).

Kemudian, Er (21 tahun), FR (19 tahun), Ih (20 tahun), MI (17 tahun), Fz (19 tahun) dan Ar (18 tahun). Lalu tiga perempuan berinisial Ts (19 tahun), In (20 tahun), dan Wy (17 tahun).

"Kasus ini terungkap dari informasi masyarakat tentang maraknya peredaran ganja sintetis di apartemen tersebut," katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, empat kamar berbeda di dalam apartemen mewah tersebut, digunakan para tersangka untuk memproduksi ulang tembakau sintetis sebelum dipasarkan ke konsumennya.

Saat ini puluhan muda-mudi yang umumnya warga Kota Makassar ini masih menjalani pemeriksaan hukum intensif di Mapolrestabes Makassar guna penyelidikan lebih lanjut.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal