Melihat Suku Kajang yang Hanya Mengenal Warna Hitam untuk Pakaiannya
JAKARTA, iNews.id - Suku Kajang merupakan salah satu suku tradisional, yang terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Letaknya sekitar 200 km arah timur Kota Makassar.
Suku ini masih menjungjung tinggi nilai kearifan lokal budayanya. Penduduk Suku Kajang Dalam mempercayai bahwa benda-benda yang berbau teknologi bisa memberi dampak negatif dalam kehidupan mereka.
Apabila ingin masuk ke daerah kawasan Ammatoa (Kajang dalam) tidak diperbolehkan memakai sandal. Hal ini dikarenakan sandal sudah dibuat dari teknologi modern.
Ciri khas dari Suku Kajang ini adalah pakaian yang dikenakannya berwarna hitam dan tidak memakai alas kaki.
Jika Anda berkunjung ke sana, maka diwajibkan memakai pakaian berwarna hitam. Menurut Suku Kajang, warna hitam memiliki makna persamaan, persatuan dalam segala hal, dan kesederhanaan.
Semua hitam merupakan sama. Warna hitam juga menunjukkan kekuatan serta derajat di mata sang pemilik jagat. Kesamaan yang terkandung dalam warna ini juga dalam menyikapi tentang kondisi lingkungan, terutama kelestarian hutan yang wajib dijaga karena merupakan sumber dari kehidupan.
Bahasa yang digunakan oleh Suku Kajang adalah bahasa Makassar yang berdialek Konjo.
Secara aturan adat, di Suku Kajang menjadi pantangan besar untuk berbicara kasar. Bahkan saat bertutur kata, tidak boleh bersikap dengan bertolak pinggang.
Masyarakat Suku Kajang juga dibiasakan untuk berbicara dengan melipat tangan di dada sambil membungkuk badan dan mengguung sarung.
Kepercayaan yang dianut oleh Suku Kajang adalah agama Islam. Dalam bahasa konjo di sebut 'Sallang', dan tuhan yang diyakini untuk disembah adalah Allah atau dalam bahasa Konjo di sebut 'TURIE’ A’RA’NA'.
Bukan itu saja, Suku Kajang ini juga memiliki kepercayaan unik untuk sebuah filosofo salat yaitu, 'je’ne talluka sumbayang tala tappu' yang memiliki arti 'wudhu yang tidak pernah batal, sembahyang yang tidak pernah putus.'
Editor: Candra Setia Budi