Lupa Kunci Kamar Asrama, Santriwati di Makassar Nyaris Diperkosa saat Azan Subuh

Okezone, Herman Amiruddin ยท Minggu, 15 Maret 2020 - 18:30 WITA
Lupa Kunci Kamar Asrama, Santriwati di Makassar Nyaris Diperkosa saat Azan Subuh
Ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Dok).

MAKASSAR, iNews.id - Seorang santriwati di pondok pesantren kawasan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), nyaris diperkosa seorang pria saat azan Salat Subuh. Korban ketika itu tidur di kamar asrama dan tidak ikut salat berjamaah di masjid.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Makassar, AKP Ismail mengatakan, peristiwa ini terjadi pada 20 Januari 2020 lalu. Tersangka berinsial ED (31), nekat menyelinap ke kamar asrama korban yang dalam kondisi tidak terkunci.

"Saat selesai azan subuh. Kebetulan korban tidak pergi Salat Subuh di masjid," kata Ismail kepada wartawan di Kota Makassar, Sulsel, Minggu (15/3/2020).

Korban mengaku, tidak mengunci kamar, karena temannya sedang pergi ke masjid. Sedangkan dia sedang tidak salat dan memilih tetap berada di kamar asramanya.

Tersangka saat itu diam-diam menyelinap ke kamar korban. Ketika ikamah berkumandang, gadis berusia 20 tahun tersebut kaget, karena mendapati pria berada di samping tempat tidurnya.

"Korban terbangun dari tempat tidurnya. Pelaku sudah berada di samping korban lalu spontan berteriak meminta tolong," ujar dia.

Tersangka lalu mengambil pisau di atas lemari kamar dan mengancam agar korban diam. Tersangka sempat berupaya mencabuli korban dengan menarik celana perempuan itu, namun korban terus melawan.

"Korban terus melawan dengan menendang badan tersangka sebanyak dua kali hingga terjatuh," ujarnya.

Sadar tak berhasil memperdayai korban, tersangka kabur. Korban lalu melaporkan kasus itu kepada pihak pesantren, karena mengenal pelaku sebagai salah satu pendakwah di pondok tersebut.

Pelaku diamankan polisi pada 6 Maret lalu saat kembali ke pondok pesantren di Perumahan Bukit Baruga, Jalan Kintamani, Kecamatan Manggala. Pelaku kini dijerat pasal 289 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.

"Barang bukti pakaian korban dan tersangka saat kejadian. Serta pisau yang digunakan tersangka untuk mengancam korban," kata Ismail.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal