Gara-Gara Uang Rp5.000, Siswa SD di Makassar Kena Tikam

Andi Deri Sunggu ยท Selasa, 11 Desember 2018 - 21:10 WIB
Gara-Gara Uang Rp5.000, Siswa SD di Makassar Kena Tikam
Siswa SD korban penikaman di halaman sekolah. (Foto: iNews/Andi Deri Sungu).

MAKASSAR, iNews.id - Seorang murid sekolah dasar (SD) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), jadi korban penikaman seorang pelajar sekolah kelas menengah pertama (SMP). Peristiwa ini terjadi lantaran korban menolak memberikan uang Rp5.000 ke pelaku.

Korban, MF (12), siswa kelas 6 SDN Bawakaraeng langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Palamonia Kota Makassar oleh gurunya dengan kondisi senjata tajam jenis badik tertancap di bagian punggungnya.

"Anak saya tidak pernah ada masalah apa-apa di sekolah. Pas dia cerita, katanya dimintai ulang Rp5.000 dipalak, sedangkan dia memang tidak punya uang," kata Hartarti (25), ibu korban di RS Palamonia, Kota Makassar, Sulsel, Selasa (11/12/2018).

Dia juga awalnya merasa terkejut dengan kabar tersebut. Hartarti mengatakan, awalnya tidak percaya saat diberi tahu bahwa anaknya kena tikam di halaman sekolah. Ketika dia datang ke sekolah untuk memastikan itu, pihak sekolah kemudian mengarahkannya ke RS Palamonia.

Kapolsek Makassar, Kompol Usman mengatakan, peristiwa ini terjadi di halaman sekolah. Pelakunya adalah siswa SMP, di mana usianya hanya selisih sekitar 2 tahun dengan korban. Saat ini, polisi masih dalam tahap penyidikan.

"Informasi yang diperoleh, anak ini agak besar dikit, ya mungkin usia 14 tahun," kata Usman.

Dia menjelaskan, kronologi kejadian ini bermula saat korban baru keluar dari sekolahnya. Ketika dia berjalan di halaman sekolah, tiba-tiba didatangi pelaku, sempat terjadi interaksi antara keduanya sebelum penikaman tersebut.

"Mungkin korban ingin menghindar, dia berlari. Lalu disusul oleh pelaku, sehingga kena tusuk punggungnya," ujar dia.

Pelaku, F (14), kini sudah diamankan kepolisian setelah 4 jam peristiwa penikaman tersebut. Terkait seperti apa kasus detailnya, polisi hingga sekarang masih melakukan penyidikan lebih lanjut.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal