Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 di Puncak Bulusaraung Terkendala Medan Terjal
PANGKEP, iNews.id – Operasi kemanusiaan pencarian korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terkendala jalur ekstrem.
Meskipun puing-puing pesawat telah ditemukan, keberadaan 10 orang di dalamnya hingga kini masih menjadi misteri di tengah kepungan cuaca ekstrem.
Tim SAR gabungan melaporkan serpihan pesawat dan barang-barang penumpang ditemukan tercecer sekitar 500 meter dari puncak gunung, tepatnya di area yang dikenal sebagai Puncak Bayangan.
Proses penyisiran yang dimulai sejak pagi hari harus berhadapan dengan geografi pegunungan yang nyaris mustahil ditembus dalam kondisi normal. Berada di ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut (MDPL), tim harus menghadapi tebing vertikal dengan kemiringan hingga 90 derajat.
"Kendala terbesar kami adalah medan yang sangat terjal dan cuaca yang tidak menentu. Sejak pukul 10.00 WITA, kabut tebal dan rintik hujan mulai menutupi jarak pandang. Hal ini sangat berisiko bagi keselamatan personel, terutama saat melakukan penyisiran vertikal ke bawah jurang," ujar Dandim 1421 Pangkep, Letkol Czi Bhakti Yuhandika.
Meski belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban jiwa, otoritas SAR telah menyiapkan dua skenario evakuasi jika para penumpang dan kru berhasil ditemukan.
Jika korban ditemukan di sekitar area puncak, evakuasi akan dilakukan melalui jalur pendakian menuju Posko Utama di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci.
Jika korban ditemukan di titik yang jauh dari puncak atau di lereng bawah, tim akan menempuh jalur terdekat yang memotong langsung menuju jalan poros Balocci guna mempercepat proses evakuasi medis.
Berdasarkan sebaran puing yang ditemukan di sekitar puncak, muncul dugaan kuat bahwa pesawat nahas tersebut menabrak puncak gunung sebelum akhirnya meledak dan serpihannya terpental ke dasar jurang.
Pesawat yang terbang dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ini hilang kontak sejak Sabtu siang dalam kondisi cuaca buruk.
Hingga saat ini, ratusan personel dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan tetap bersiaga. Pencarian terus diupayakan dengan tetap mengedepankan prinsip keselamatan kerja mengingat medan karst yang tajam dapat menciderai personel jika dipaksakan dalam kondisi kabut tebal.
Editor: Kastolani Marzuki