MAKASSAR, iNews.id – Sebanyak 206 kejadian kebakaran terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang 2026 hingga Agustus. Bencana tersebut berdampak terhadap 1.421 jiwa, termasuk enam orang meninggal dunia dan 18 lainnya mengalami luka-luka.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel mencatat, dari ribuan warga terdampak tersebut, sebanyak 1.313 orang terdampak langsung. Sementara 84 warga lainnya terpaksa mengungsi akibat kebakaran.
Tak hanya menimbulkan korban jiwa, ratusan kebakaran tersebut juga menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp26,9 miliar.
Kepala BPBD Sulsel Amson Padolo mengatakan potensi kebakaran perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi cuaca ekstrem dan suhu udara meningkat.
Cuaca panas ditambah kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar dengan cepat. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
"Kami mengimbau kepada segenap masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya pada kondisi cuaca ekstrem," ujar Amson dikutip dari iNews Celebes, Kamis (27/8/2026).
Salah satu aktivitas yang diminta dihentikan adalah pembakaran terbuka untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah.
"Tidak melakukan pembakaran sampah, semak belukar, maupun lahan secara sembarangan. Tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar," katanya.
Kewaspadaan masyarakat juga diperlukan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai peningkatan suhu udara yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Memang kemarin sudah ada peringatan dari BMKG terkait peningkatan suhu udara, jadi sangat rawan kebakaran hutan dan lahan,” kata Amson.
Selain pembakaran terbuka, masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang memiliki vegetasi kering.
“Kemudian puntung rokok juga biasa jadi sumber kebakaran, jangan dibuang sembarangan,” katanya.
BPBD Sulsel juga mengingatkan warga agar melakukan pemeriksaan sebelum meninggalkan rumah maupun tempat usaha. Kompor, instalasi listrik, dan sumber api lainnya harus dipastikan dalam kondisi aman.
“Segera melakukan pemadaman apabila menemukan api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran,” katanya.
Jika api sudah tidak dapat dikendalikan secara mandiri, masyarakat diminta segera menghubungi petugas pemadam kebakaran, BPBD, aparat pemerintah setempat, atau pihak berwenang lainnya.
BPBD mengingatkan pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan jumlah kejadian kebakaran. Terlebih, sepanjang 2026 hingga Agustus, kebakaran di Sulsel telah menyebabkan enam orang meninggal dunia, 18 luka-luka, serta kerugian Rp26,9 miliar.
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait